Seminar sesi 2 " Mendidik Anak Dengan Cinta dan Logika"

Akhirnya berusaha kumpulin mood untuk share mengenai seminar sesi 2 bersama Ibu Elly Risman yang kemarin aku ikutin, temanya kali ini  “mendidik anak dengan cinta dan logika”

foto diambil dari FB Supermoms Indonesia

Menurut ibu elly sering kali cinta di jadikan kambing hitam oleh orangtua dalam pengasuhan anak padahal sesungguhnya yang dibutuhkan dalam pengasuhan bukan hanya cinta tapi juga logika.

Ada dua macam gaya pengasuhan yang sering digunakan:

  1. Gaya Helikopter
Untuk gaya ini adalah di ibaratkan cinta orang tua seperti baling baling helicopter selalu muter muter diatas anak dan kapanpun bantuan di perlukan akan langsung di penuhi, jadi untuk gaya ini perlindungan penuh untuk anaknya dengan kata lain terlalu Overprotectif

Efek buruk dari gaya ini adalah anak tidak siap untuk menghadapi “hidup” karena apapun yang dia butuhkan selalu dipenuhi oleh orang tuanya sehingga yang ditangkap oleh anak tersebut adalah “ kamu lemah, tidak bisa apa apa tanpa mama/ayah”

Akibat lainnya : 
  • tak tahan terhadap kekuasaan diluar 
  • Tak sanggup berpikir tentang dirinya
  • Tak mampu menangani masalah.

  1. Gaya Sersan pelatih
Untuk gaya ini adalah semuanya selalu diperintah oleh orangtua, semakin keras teriakan maka semakin terkontrol, anak tidak sempat berfikir karena selalu diambil alih oleh sersan pelatihnya (Ortu)

Akibatnya: 
  • Terlalu banyak melakukan penghormatan 
  • Anak jadi tertekan dan kecenderungan pola pikir menjadi sempit  
  •  
    Kedua gaya diatas jika dilakukan terus menerus biasanya akan mengakibatkan sukses di usia DINI akan tetapi bermasalah ketika REMAJA

    Lagi lagi ibu elly mengungkapkan bahwa 
    “banyak anak yang akademisnya baik belum tentu memiliki hati yang baik juga”

    Oleh sebab itu mulailah untuk menerapkan pengasuhan dengan cinta dan logika, dengan detailnya sbb:

    1. Konsep Penanaman Agama
    Ingat lah bahwa anak itu hanya pinjaman dan kita akan diminta pertanggung jawabannya nanti. Oleh sebab itu asuhlah anak kita sebaik mungkin.

    Kutipan bagus dari ibu Elly :

    Anak dititipkan untuk kebahagiaanmu, kesenanganmu dan juga ujian bagimu

    Penanaman agama HARUS dilakukan oleh kedua orang tuanya dan tidak bisa di lakukan oleh orang lain.

    Sebaiknya Agama diajarkan bukan agar anak BISA tetapi agar anak SUKA. Karena jika menyukai, mencintai tentu anak akan lebih mudah dan lebih ringan  dalam mendalami serta melaksanakannya.

    PR besar bagi kita sebagai ortu adalah untuk mempersiapkan iman ibadah dan akhlak anak sebelum si anak memasuki masa baligh.

    Jangan merasa tabu untuk memberikan pendidikan seks kepada anak sedini mungkin, tetapi tanamkan bahwa ada rambu rambu mengenai hal itu, beberkan mengenai pengetahuan pubertas, pacaran dan menikah serta ingatkan untuk selalu menjaga diri.

    Dengan memiliki pemahaman agama dan budaya keluarga yang baik, maka insya allah dapat menjadi tameng untuk mencegah pornografi.

    "Allah sangat Mencintai umatnya. Allah memberikan kebebasan berfikir. Allah memperkenalkan pilihan dan konsekuensi. Allah tidak menyetujui ketidakpatuhan. "

    Dari kalimat diatas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai orang tua memberikan kebebasan anak untuk berfikir, memilih dan kita juga harus “ Tega “ ketika anak menjalani konsekuensi karena kesalahannya. Intinya sebagai orang tua kita harus tetap perduli dan memberi petunjuk.


    1. Konsep cinta dan logika

    Mengasuh dengan cinta itu artinya cinta yang cukup untuk mampu membiarkan anak untuk salah dan sedikit menderita

    Pusaran cinta yang efektif :
    • cinta yang tidak permisif ( tidak harus apa-apa dibolehkan tapi harus ada alas an yang jelas). 
    • Cinta yang tidak mentolerir tingkah laku yang tidak respek ( anak harus memiliki tingkah laku yang baik dan juga bisa mempertahankan kepentingannya) 
    • Cinta yang cukup kuat untuk membiarkan anak berbuat salah dan mengizinkan anak menjalani kosekuensi dari kesalahannya

         Logika  
         (Membiarkan anak belajar gagal untuk nantinya bertanggung jawab):
    -    berpusat pada konsekuensi
    -    semua kesalahan memiliki konseukuensi yang logis.
    -    konsekuensi dengan Empati akan memberikan pengertian yang penuh cinta terhadap kekecewaan, frustasi dan rasa sakit yang dialami anak sehingga akan memberikan kekekuatan perubahan fikiran pada anak

    Tugas kita sebagai ortu adalah untuk “tega” membiarkan anak kita menerima konsekuensi dari kesalahannya serta kita juga harus tetap mendampingi dan memberikan petunjuk ketika mereka menjalani konsekuensinya.

    Keberanian ortu menyaksikan anaknya gagal betapapun pedihnya akan tetapi harga nya lebih murah dan lebih pedih ketika anak sudah besar tetapi tidak bertanggung jawab.

    Cinta & Sikap ortu merupakan KUNCI untuk bagaimana anak menangani masalahnya ketika remaja. Jadi tanamkan didiri anak tanggung jawab sedini mungkin dan jangan takut si cap sebagai ortu yang “TEGA” dalam mendidik anak.

    Tanamkan  Tanggung Jawab

    Tanggung jawab kepada : Allah, diri sendiri, keluarga dan masyarakat serta alam semesta
    Dengan belajar bertanggung jawab, maka harga diri anak akan tumbuh sehingga dia akan percaya diri dan berprestasi dalam kehidupannya

    Tanggung jawab
    - Hindari menggunakan kata tanggung jawab
    - Semakin banyak disebutkan semakin tidak dilakukan oleh anak
    - Tanggung jawab tidak di ajarkan
    - Tanggung jawab di contohkan dan dibuktikan

    Mencontohkan tanggung jawab:
    • Letakkan tanggung jawab berfikir dan cara mengambil keputusan pada anak sejak dini,
    • Kasih anak pilihan
    • Kesalahan anak adalah kesempatan karena Klo tidak melakukan kesalahan maka anak tidak  punya kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.
    • Ortu harus tahu kapan waktunya untuk ikut campur dan kapan untuk membiarkan.
    • Ortu harus kurangi kontrol agar anak dapat mengontrol dirinya sendiri.
    •  
      Konsep the V of Love
       
      Maksudnya kita harus memberikan batasan yang cukup ketat sejak anak lahir untuk   membangun fondasi yang kuat ketika anak dewasa. Seiring perkembangannya, batasan itu akan menjadi lebih longgar karena anak sudah dapat memutuskan dan memberikan batasan pada dirinya sendiri. Sebaliknya jika anak ketika kecil tidak diberikan batasan maka ketika dewasa, ia tidak akan memiliki fondasi yang kuat.

      Insya allah klo fondasinya kuat maka anak akan bertanggung jawab serta mandiri dan dia juga akan tahu jika dia mengabaikan tanggung jawab maka akan ada konsekuensinya.

      1. Konsep Diri

      Anak belajar dari apa yang dia lihat , dengar dan rasakan, untuk itu sangat penting menanamkan konsep diri sedini mungkin.

      Ada 3 kaki konsep diri, yaitu :
      1. Saya dicintai orang sekitar saya.
      2. Saya yakin saya punya kemampuan.
      3. Saya mampu mengontrol hidup saya.
      Dengan anak mengetahui bahwa ia dicintai oleh orang sekitarnya dan berikan anak kesempatan agar ia dapat yakin bahwa ia mampu melakukan sesuatu sehingga ia juga mampu untuk mengontrol hidupnya sendiri.

      Klo konsep dirinya udah baik, maka anak dapat Berpikir, Memilih dan Mengambil Keputusan sendiri.

      Tips mengasuh dengan cinta dan logika:
      • Buat batasan yang jelas dan adil
      • Lebih baik "Thinking words" daripada "Fighting Words". Agar anak lebih mengerti dan mau melaksanakan karena walau keduanya memiliki tuntutan yang sama, tetapi tentu saja reaksinya akan berbeda.
      • Biarkan salah selama tidak membahayakan
      • Tekankan kekuatan yang dimilikinya
      • Hindari mengeritik & terlalu melindungi.
      • Jangan mudah marah-marah ketika anak berbuat salah, maafkanlah karena itu waktu nya anak untuk belajar
      • Minta ampunkan pada Allah SWT.
      • Bermusyawarahlah dengan mereka
      • Jangan sebarluaskan kemana-mana aib anak.
      • Jika memang mereka salah, jangan langsung mengoreksi dan merusak harga diri mereka
      • Jika berhasil, di hargai

      Klo anak sudah terlanjur memiliki masalah sebaiknya lakukan hal sbb:
      1. Buat daftar yang ingin diperbaiki
      2. Buat prioritas mana yang di dahulukan
      3. Tetapkan goal untuk diri sendiri
      4. Target yang realistis
      5. Belajar berkomunikasi dengan baik
      6. Lengkapi diri dengan pengetahuan yang cukup
      7. Siapkan mental
      8. Coba pahami pikiran anak jangan hanya anak yang “ melayari pikiran Ibu”
      9. Sediakan waktu dan jangan tergesa gesa jika ada masalah
      10.  
        Karena anak itu belajar dari yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakan maka seringlah ortu untuk memahami pikiran anak dengan belajar “menyapa” emosi anak.
        Jika anak sudah memiliki pengetahuan tentang emosi dan mengenali macam macam emosi baik positif dan negative maka anak dapat mengendalikan serta memanajemen emosinya dengan baik.

        Jangan lupa untuk selalu tanamkan ke anak BMM yaitu Berfikir, Memilih dan Memutuskan.
        Terakhir pesan Ibu Elly adalah 

        "Kenali bakat dan potensi anak, lalu galilah keinginannya dan asuhlah anak dengan menggunakan cinta dan logika." 

        Selesai seminar aku merasa dapat PR baru lagi nih.. memang tidak mudah tapi insyaAllah kita sebagai ortu akan selalu berusaha belajar untuk yang terbaik dalam mengasuh anak dan menjadikan generasi yang lebih baik di masa depan

        Sampai bertemu lagi di sesi yang ketiga ya.. “ disiplin dengan kasih sayang “  kebetulan aku dapet free seat nih dari jeng motiq yang berhalangan hadir..katanya “ gw kasih gratis tapi syaratnya nanti ilmu nya di share ya..”  oke deh bu..insyaallah siaaapp :D

        No comments:

        Post a Comment